CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

03 January 2009

BERAKHIR DI SINI

Blog ini berakhir di sini hari ini dan tulisan seterusnya akan saya letakkan di blog baru saya, PUISI PENABAHARI - ARKED WAKTU

Teman-teman dijemput terus berkunjung ke blog baru saya.
Salam hormat.

01 January 2009

NOKTAH

DI DAERAH bernama Enigma
rimbanya sukar terlena
didera tangan kota
kerana alpa bangsa
melukis peta
kita terpingit
di persimpangan sempit

di persimpangan ini,
perlu berani meredah
antara dua arah
laluan payah
menyusur labirin
tanpa musim

atau menyisir laluan mudah
sedia menerima padah
mengulangi sejarah
menjadi jambangan
penghias laman

undur selangkah
boneka pasrah
ditinggal masa muka
terpenjara raga
menjadi artifak purba
sejarah bermula

ironinya merdeka di tanah pusaka,
NOKTAH !

010109















Helaian usiaku bermula lagi
hari ini
seperti sebelumnya
dengan pengisian harapan
dan seperti biasa
terlukis cita-cita
mahu membina kota

Selamat Tahun baru
Buat pengunjungi Balkoni ini.....

Salam daripada Penabahari.

29 December 2008

AKULAH JEJAKA JEJAKA DARI KEHENINGAN LANGIT TIMUR ITU

DI LAMAN ini
puspa merimbun
mengakar di bumi
meranting budi
merendang kasih
memayungi perantau letih

kuhampar permaidani kasih
untuk teman bertandang
dari dua belahan bumi
mentafsir budaya
menghilang sangsi
lama terungkap di helai sejarah

akulah jejaka dari keheningan langit timur itu
pewaris pohonan puspa
menghulur salam dari kalbu biru
mengharu perantau sarwajagat

Akulah jejaka
memperaga wajah sejuta
mengajar erti setia kawan
pada awan gemawan
di persada cakerawala

kulukis figura perawan rimba
dari pedalaman yang diperam
terlupa menganyam malam
dengan alunan melodi
sepi tak bertepi
terpingit oleh masa
terdampar di muara alpa

berpayung awan semerah saga
kunanti mentari pagi
-kembalikan langitku
sebiru permata nilam
pelindung duka warga
dari resah hidup
gagah bertunjang harmoni
indah berhiaskan budi
bersolek pekerti

Akulah jejaka tertinggal di zaman silam
ketika malam mengalpakan fikiran.


11 Februari 2008








24 December 2008

SEKETIKA DI ALAM PURBA

Aku diajak teman
mengikuti program sastera
berpuisi di Gua Niah
sambil menatap sejarah manusia
tamadun tinggalan dahulukala
kembali seketika di alam purba

Mereka berkata,
di sini tamadun bermula
manusia purba meninggalkan cerita
epigraf renta di dinding gua hijau tua
kutafsir, namun tak berupaya
melihat kehidupan mereka.

Di hadapan gua kulihat pusara
terbaring jasad-jasad mereka
antaranya seorang wanita
di samping beberapa jasad jejaka
dan aku bertanya mengapa?
ada yang ingin kaubicara pada dunia
tentang manusia yang kugelar purba
ketika masa terhenti seketika

Dalam tenang kudengar bisikmu
tentang masa luka
tika kuasa menjajah minda
tika manusia merajalela
tika masa didukung sengketa
dan manusia membunuh demi kuasa
menjadi raja sebuah gua
sengketa mencetus duka
duka sepanjang masa purba

Kujengah Niah di celah rimba
perakam wajah tamadun purba
untuk kurasa debar jiwa
manusia yang ditinggal masa
dan aku terus bertanya
perlukah kita mengulangi cerita lama
untuk kembali menjadi manusia.

Niah
Oktober 2008











21 December 2008

BATANG SADONG


Perahu nelayan kecil Sadong Jaya


Tebing Batang Sadong


Entah berapa musim
angin biru berlalu
menderu, mendayu
membanjar boneka
dari istana beratap rumbia
menghunjam enigma

enam puluh purnama
suatu waktu yang lama
menongkah arus dura
berpaut pada turus hipokrasi
lelah nelayan Sadong Jaya
resah petani Sungai Apin
gundah teman di Rangawan
dibusa bayu daksina
Batang sadong terkesima

pada waktu begini
kuingati mimpi bupala senja
warga cendera dalam euforia melodi
nyanyian manusia hedonis
perjuangan untuk buana tercinta
dan dia hanya bisa bersuara
dari kotak suara yang tidak berjenama

Batang Sadong
suaramu kujunjung
sejarahmu kuagung
gigih wargamu kusanjung
tunjukkan aku
jalan ke penghujung

1 Mac 2008



15 December 2008

DI HADAPAN PUSTAKA

BERDIRI di hadapan Pustaka

aku dibusa pawana

membara rasa

mengarif jiwa

seperti lentera kala gelita

menembusi halimun pagi


Ditemani danau bisu

kau kukuh menunjang bumi

di pundakmu gagasan unggul

menjadi candelier ilmu

menerangi labirin kehidupan

menerjah minda saka warga nusa

untuk sampai ke terminal fikrah

mencapai kejora di jumantara


Di hadapanmu aku terpaku

melihat landskap masa muka

seperti oasis di tengah Sahara

penyelamat bijaksana yang ternoda

oleh pelaksana alpa


aku semakin yakin

wibawamu pemacu utama

menjana fikrah prima bijaksana

untuk mandala pluralisme

berpaksikan saksama dan sempurna

14 April 2008

09 December 2008

DAYANG SAHADA


(mengingati wanita Darul Hana bersama membangun pendidikan bangsanya ketika tanah di tangan penjajah)

Seabad lalu
di sini, di banglo leluhur
dia berdiri
menjadi pemacu
bangsa yang layu
wanita seperti mutiara
ditangkup tiram resam

dia isteri si bangsawan
teman akrab ranee negeri
digeraknya harakah menyubur fikrah

bersama sahabat dari Sumatra

mendidik bangsa menjadi dewasa

Dibangunnya wadah wahana madah
mendidik wanita dan putera bangsa
mengenal aksara dan abjad bijaksana
menyalakan kandil ilmu di tanah pusaka

Dayang Sahada
pembuka jendela minda
menyuluh bangsa dalam gelita
menyusur laluan masa
dirintangi dura
atas nama budaya
dan dia harus mengerti
hati anak negeri

hari ini di tengah kota
kuingati wanita waja
memperjuang martabat bangsa
dalam mendidik mereka
menjadi bijaksana

Dayang Sahada
ceritamu sejarah bangsa

merentasi masa

kutulis menjadi puisi
abadi di laman pertiwi.

10 Februari 2008



07 December 2008

SESEKALI

sesekali daalam tenang
aku perlu melangkah jauh
ke pulau bening
mencari mentari pagi

sesekali dalam sepi
aku harus berlari sendiri
di pantai putih
mengutip sisa usia
dihempas ombak masa

kegelapan malam di kota bingar
menamabah resah
lalu malamku di sini
menjadi teman sezaman

akan kuhilangkan segala perit
dipanah dendam semalam
yang bermula
dari sebuah cerita cinta
yang tak bernama

di pulau sepi inilah
tempat asalku
di sini d laut biru
di pulau hijau
di pantai putih
kutemui hening alam

betapa aku merindui
semalam yang kian jauh
betapa aku terus dilukai
pada setiap ruang jasad

di sini aku berlari mencari mimpi
yang hilang di malam kusam
akan kupulihkan segala resah
akan kuhilangkan segala perit

Langit kian hitam
laut kian geram
dan aku perlu berani merentasi
taufan hati yang bertiup
di setiap detik usia

kibarkan sahaja panji-panji kemenanganmu
dalam perang yang tak berhujung ini
aku pasrah pada ketentuan
yang sudah tersurat di dalam sejarah diri.

Jun 2006

dipetik dari kumpulan puisi BINGKAI WAKTU

05 December 2008

SAJAK TENTANG MALAM

DI SEMINAR sastera
dia membentang kertas kerja
tentang aku penulis sajak
taksub tentang tema
malam, bulan, bintang dan cinta
yang tidak punya makna

seperti akademikus ulung
dia bicara tentang aku
yang menulis dari susur balam
sajak tentang malam
tanpa jiwa perjuangan

aku hanya penulis jalanan
berbicara tentang makanan
dan kehidupan anak alam
yang berkeliaran di pedalaman
bukan cerita makan malam
di rumah orang ternama

aku juga bukan sasterawan
mengungkap tema perjuangan
dengan semangat ketuanan
kerana aku tahu
puisi itu kebenaran
ditulis bertintakan kejujuran

aku bukan menulis
sajak ambiguiti
membawa fikiran tinggi
tentang perjuangan hakiki
aku hanya menulis
sajak tentang malam
bila mentari kembali bersembunyi

aku menulis puisi
berbicara tentang malam
dan sukarnya kehidupan
tanpa lantera penyuluh masa depan.

23 April 2008

01 December 2008

JANJI MATAHARI

MALAM tidak upaya
membunuh cintanya
pada cakerawala
kerana begitulah janji matahari
memberi sinar pada bumi
agar lestari
suci dan bersemi

matahari telah berjanji
pada alam pada bumi
pada insan yang memahami
cahayanya adalah cinta
ditebar menjadi jaring
memintal rasa
membibit jiwa
didera gelita

janji matahari pada diri
esok kembali menjadi nadi
sebuah realiti di batas mimpi
jangan ada curiga
dilubuk hati
cinta matahari seindah janji
janji pada Ilahi.

4 November 2008


23 November 2008

MENARA HARAPAN (2)

(Allahyarham Haji Odita Ibrahim, teman di kota taman dalam kenangan -Al Fatihah)

Kuingati perit bengit
mendepani karenah kuasa
dan prejudis korporat
ketika menbdaki manara cita
untuk menjadi dewasa
mengejar mimpi ayahanda

Lima tahun yang panjang
bertandang di sekolah tinggalan penjajah
kita belajar nilai kemanusiaan
mentafsir makna kehidupan
memahami erti kesetiakawanan
menilai martabat asing
kita pun menjadi dewasa

di penghujung waktu
kita susuri tekad dan hasrat
melangkah ke daerah masa muka
dari dua hala yang berbeza
aku terdampar di kaki cangkat
kau penjelajah kota metropolitan
kita hilang bersama musim yang berganti
mengejar destinasi yang pasti

kuingati laluan usang
yang telah memerdekakan jiwa
setelah tiga puluh tiga tahun
sejarah tertinggaaal di sudut fikir
lalu kutulis puisi untukmu
dan setiakawan adalah tema yang pasti
kita tinggal di kota taman
namun terlalu sukar untuk bersalaman

Begitulah masa menentukan segala
tiada ruang untuk kembali ke alam remaja
walaupun jauh di lubuk hati
tersimpan kerinduan seorang teman
menjenguk kembali jejak-jejak silam
tersimpan seribu cerita

pagi sunyi kuterima berita dari teman
kau kembali menemui Tuhan
dan aku menjadi kaku dan bisu
terpahat seribu kesal
kita tidak sempat menjanjikan pertemuan
melukis reka Menara Harapan
lambang kesetiakawanan
untuk menghiasi laman
sebuah kota bernama teman.

Kuching
25 Oktober 2005
dipetik dari kumpulan puisi BINGKAI WAKTU

20 November 2008

MENARA HARAPAN (1)

(Buat seorang teman, arkitek di kota taman)

Menatap pencakar langit
tegak di persada kota
membuat aku kagum
pada jiwa seorang teman arkitek
yang dahulunya pernah menjadi buruh kasar
turut membina Bangunan Yun Phin perkasa
di tengah kota taman
kuingat sepanjang zaman

Begiutlah masa mengabadikan cerita
ada sejarah boleh membuat kita marah
ada kenangan memberi ketenangan
ada memori tinggal bersemi di hati
ada perjuangan tidak pudar dari ingatan
ada teman tidak terlupakan
ada cita-cita tidak kesampaian
ada harapan tidak kecapaian

Menatap arca budaya yang pernah diukir
aku rasa terpanggil untuk merakam
cerita kita di tepian kota
menggerakkan kesungguhan hati
memaknakan kesatuan
menulis cerita budi
di atas pentas bangsawan
menari, menyanyi mendukung harmoni

ketika usia bergerak lari
kupohon darimu sedulang janji
binakan sebuah menara harapan
di atas tapak kesetiakawanan
agar dapat kutoleh saat yang hilang
terlalu banyak pengajaran yang tertinggal di belakang

Tiga dekad yang terlepas
sukar kembali ke laman diri
entah esok masa kepergian
kita tak sempat meninggal pesan
tinggalkan potretmu di tengah laman
untuk kusimpan sepanjang zaman
bagimu mimpi bukan lagi khayalan
dan pelangi itu satu kenyataan.

Kuching
10 Disember 2003

dipetik dari kumpulan puisi: BINGKAI WAKTU
(nota tambahan: temanku ini meninggal dunia lebih setahun setelah puisi ini kutulis. Al-Fatihah)



15 November 2008

DUKA PURNAMA

Ingin kugapai purnama
seketika dalam mimpi
menghiasi kamarku
malamku didakap tenang
dan aku kembali muda

duka menerpa purnama
durja dilitupi mega
malam dirasuk kelam
langit teramat cemburu
dan aku menjadi layu

kuhembus gugusan awan
kusergah mega durjana
musim pun berlalu
meninggalkan pelabuhan alam
kembara menjelajah cakerawala
cinta pun berkelana
tersesat di rimbs fana

malamku kian hilang
purnama sirna
dan aku kembali ke dunia nyata
menjadi kekasih setia.

Kuching
20 Ramadan 1426

dipetik dari Kumpulan Puisi BINGKAI WAKTU


05 November 2008

PEREMPUAN TUA(3)

Perempuan tua dari Bintawa
kau lahir dari akar penegak budaya
dari pohon merimbun santun
berayahkan penoreh getah
yang tidak menyesali perih
menjunjung amalan soleh
menbangun keluarga dengan iman
bersendi harapan bertunjang sopan

Ibumu wanita ulungdi hujung kampung
mendepani masa dengan usaha
membina mahligai keluarga
memperkasa kehidupan berteraskan setia

Belum tercecah usia perawan
ayah dan ibu menemui Tuhan
kau terdampar di celah duka
bertamu di rumah tetangga
dengan peluh dan jerih
kau harungi gelombang sedih

Lima belas tahun terlalu muda
untuk menjadi isteri kekdua
seorang pemuda berbangsa India
yang susur galurnya bermula di Iraq
demi kehidupan yang lebih sempurna
kau harungi dugaan masa
membina keluarga berasaskan setia

Perempuan tua
dari seorang isteri muda
kau pertaruh seluruh upaya
membesar sebuah keluarga
bersandar adat dan budaya
menyuluh laluan dengan cahaya
bersendikan agama mulia

Lima kelahiran yang diderita
membesar menjadi manusia
-politikus negara penegak saksama
-pendakwah mulia penyebar agama
-pejuang sastera pemertabat budaya
-pengembara bertandang di tanah seberang
-dan si bongsu pelaut cekal

Perempuan tua dari Bintawa
masa telah melukis suasana
waktu telah menawar restu
tafsirkan senja dengan seribu makna
lautan tidak seluas ceritamu
malam tidak sesuram dukamu
bumi tidak seindah zuriatmu.

Kuching/Miri
1999

dipetik dari kumpulan puisi: BINGKAI WAKTU

03 November 2008

ORANG TUA DARI TAMAN NEGARA

SEORANG tua dari Taman Negara
tugasnya meronda rimba, setiap senja
diselusurinya lingga alam Tanjung Datu
selaras senapang tersangkut di bahu.
Katanya,
"senapang ini milik leluhur
tinggalan zaman bahari
ketika kampung diserbu iri
sempadan mandala dicerobohi
atas nama konfrantasi

Kutemui dia di persimpangan jalan
antara kampung dan lingga alam
di bawah sebatang meranti, kami bicara
sejarah bangsa di hujung peta.
katanya,
"ayahku telah lama hilang
dibawa lari ke tanah seberang
ketika kemuncak sengketa
hidup mati tiada berita"

ketika orang tua bercerita
matanya yang merah membara
tiba-tiba disirami duka
membasahi wajah renta

Senja itu kuturuti jejaknya
menyusur rimba gelita
bersuluh cahaya pelita
sesekali disapa suara mergastua
sesekali dijamah ranting peramah

Orang tua dari Taman Negara
jujur menjaga rimba
teman flora dan mergastua
esok, setelah kau tiada
menangis rimba dan temannya
didera kerakusan manusia kota

Orang tua dari kampung di perbatasan negara
perjalanan hidupmu
cerita yang sudah lama dilupakan,
ketabahan bangsa
meneroka masa muka
sirna dari catatan masa

Orang tua dari Taman Negara
katakan pada manusia
penghuni kota yang tiba
dengan seribu jentera
"rimba ini adalah taman
sebuah negara merdeka
jangan telanjangi martabat bangsa
untuk nikmat yang tiada harga."

30 Oktober 2008
Dewan Sastera April 2009

01 November 2008

SEKADAR MIMPI

SEMALAM aku bermimpi
mentari tidak kembali
kita pun bergelap
dan kehidupan pun malap
untuk kesekian waktu

yang tinggal memberi sinar
hanyalah kunang-kunang bejuta
datang membawa cahaya dan bahagia
di saat kegelapan menyelimuti alam

rupanya mentari tidak bersembunyi
hanya mendung yang mengurung
lantaran hatinya tergores
oleh panahan mentari pagi
ketika malam enggan mengundur diri
ketika bintang ingin berpesta lagi

tersedar aku dari mimpi
siang masih belum muncul lagi
langit malam kelam
diliputi awan hitam
purnama dipenjara mendung
dan bintang bukan lagi pelindung
kutadah tanganku yang dingin
memohon sejuta doa
kembalikan cahaya
untuk kuhidup ketika senja.

2004

dipetik dari kumpulan puisi BINGKAI WAKTU

30 October 2008

NAZAM BUAT LAILA

Ketika embun berpaut di hujung rumput
dinihari didakap sepi
kau datang mendepani belenggu
membawa pesan alam
tangisan itu melodi hakiki
untuk sebuah lagu realiti

Lalu kutuliskan nazam ini
untuk nyanyian puteri
mentafsir erti sepi

kubiarkan kau menari
bersama mentari pagi
bertemu bintang di malam suram
atau bernyanyi bersama pelangi
asal jangan tersesat hala
di persimpangan tiada arah

kulukiskan peta budi
untuk kau seberangi lautan usia
jangan ada gelombang duka
menghambat kembara
biarkan beburung resah
kembali ke sarang
biarkan malam kelam
berlalu tanpa teman

Padamu kutinggalkan nazam diri
bersama senaskhah tafsiran insani
teruskan langkah menjaring kasih
kan kau temui persinggahan yang pasti.

Miri
1998

dipetik dari kumpulan puisi: BINGKAI WAKTU

24 October 2008

TENTANG MALAM


Semalam
kota budaya
didakap kelam
temanku bulan
dipenjara awan
langit terpingit
jeritnya perit

wahai malam
jangan tangisi
waktu berlalu
jangan ratapi
bayu yang layu
jangan sesali
kecurangan bintang
teramat jalang
mentafsir sayang

cakerawala
sampaikan salam
pada bintang
katakan padanya
aku pemburu siang
biar kutentang
sejuta bintang
biar kukunyah
gugusan awan gemawan
yang mendera bulan
kuterjah segala
agar terhapus duka

kugapai bulan dalam mimpiku
kubisikkan rahsia
kuingin terbang melintas awan
beradu di langit malam
biar kuusap wajah riangmu
sentuhan seorang teman

Ingin kuceritakan pada bulan
tentang malam merobah alam
sungai kehilangan muara
bayu kehilangan suara
suria kehilangan upaya
rimba kehilangan jiwa
dan aku kehilangan nama
siang semakin hampir
malam menghitung usia.

25 Oktober 2008





23 October 2008

SESEPI UMMI

Di atas pusara ummi
aku dilindungi pohonan kemboja
dingin dan tenang meresapi
kukunjungi kenangan lalu
menterjemah makna rindu
terakam di sudut hati
tersimpan di dalam diri
tersingkap helai-helai memori
lalu kukutip sisa-sisa restu
di pintu waktu sendu
dan kesal meruntun kalbu

Semalamku telah menghilir
ke muara janji yang pasti
aku tertinggal di tebing kesal
meratap pada longgokan usia
dengan seribu masa untuk berpesta
ingin mendapatkan sayang
yang telah lama hilang
dibawa kembali ke taman hakiki
jadilah aku penunggu bisu
dihantui malam usang

Di atas pusara sepi bersemi
sesepi kemboja yang terus setia
menjadi teman sepanjang zaman
di sudut hati pilu mengharu
kuntuman layu di dada

Kunanti masa mimpi
menjelajah malam panjang
mencari pelabuhan pasti
memunggah bekalan diri
bagi satu perjalanan jauh
mengejar yang dikasihi

Ummi telah lama pergi
meninggalkan alam insani
singgah di pelabuhan sunyi
menanti saat pelayaran yang jauh
menuju ke pulau pasti.

Kuching
2004

Dipetik dari Kumpulan puisi BINGKAI WAKTU

17 October 2008

EMPAYAR FATA MORGANA

Kau lahir dari benih dua tanah
antara celah-celah waktu
ketika angin tengah hari
terpenjara di teluk kalbu
ketika matahari gerhana penuh
dan bumi dibuai mimpi

kau kuletak di perbatasan zaman
antara hipokrasi dan toleransi
menjadi penjaga setia pusaka bonda
pengawal padang luas
tinggalan leluhur jujur
untuk generasi seribu musim

dua puluh tahun kupertaruh segala
maruah, sejarah dan setiap tetes darah
untuk kau bentuk menjadi obor
penyuluh laluan ke laman visi pasti
bangsa yang seing terhimpit
antara dua mimpi

malam kusam kelam
muram alam terpadam ditindas kejam
kau berubah menjadi pemangsa
membunuh benih-benih merdeka
membuka tiraikerakusan minda haloba
meluluh lusuh hamparan pembangunan
dan kita pun dibanjiri air mata bangsa

Hari ini tiada lagi kesangsian memutik
helaian sejarah ditulis lagi
menjadi sebuah kitab mitos
cerita jejaka dari sebuah kota purba
mengibar panji-panji merah
membvakar resah setiap daerah

Aku pun terus hidup
di sebalik tembok bobrok
menatap minda makara
membina empayar fata morgana.

dipetik dari kumpulan puisi: BINGKAI WAKTU

15 October 2008

NAMANYA SUHANA A/P MARINA

Kau lahir atas dasar keterpaksaan
dari keruntuhan harkat dan martabat wanita
di celah-celah lorong gelap dan kotor
yang menjanjikan sesuap nasi
membesar bersama kemusnahan nilai budi
tanpa masa muka untuk diimpi
tanpa sejarah cinta untuk dihayati

Ibumu yang bernama Marina
telah lama mengenali
lelaki yang tidak pernah memahami makna kasih
lelaki yang datang dengan seribu gaya
membeli kasih yang dipaksa
menyemai benih yang tercela

Ayahmu tiada siapa yang tahu
apakah seorang lelaki yang petah berbicara
atau pemuda yang terpedaya oleh nafsu
mungkin seorang pengembara yang memburu ilusi
lantas kau hidup sebagai anak tak berbapa
menghirup udara yang penuh noda
menjadi seorang pelayan di sebuah kelab malam

Setelah sekian lama bersama ibumu, Marina
kau mula terpedaya oleh kerdipan neon
dan seperti wanita yang terperosok di sudut gelita
kau membesar menjadi rama-rama
yang terbang di malam suram
menghitung jemari dan hasil diri
terkulai di tepi ranjang yang tidak berteman

Ketika azan subuh membelah suasana sepi
kau masih lagi dibuai mimpi
ada lelaki yang membisikkan janji
dan seperti ibumu Marina
kau tertipu lagi oleh kejelikan seorang lelaki

Mentari pagi yang datang
rupanya bertandang membawa berita
di rumah, ibumu sudah tiada
kembali berjumpa Azza wajalla
setelah sepuluh tahun menderita sakit
kau yang tinggal perlu terus berakit
mengharungi sungai kehidupan
untuk sampai ke muara usia
yang tidak menjanjikan bahagia.

Kuching
15 Mac 2001

Dipetik dari kumpulan puisi: BINGKAI WAKTU

KEMBALI KE TALANG-TALANG


Aku ingin kembali
bermalam di Talang-Talang
ketika bulan terang
biar kutemani penyu yang datang
membiak warisan alam
agar tenang hadir bertandang
agar malam bernyanyi girang
Aku ingin kembali
ke pulau seribu janji
ada wajah tinggal bersemi
untuk hiasi galeri seni
di sini aku pernah berjanji
pada langit pagi
akan kulukis hening mentari
yang hadir menghias langit kirmizi
Kembali ke Talang-Talang
ketika ombak kian garang
ketika malam tidak berbintang
dan penyu tidak datang
dan aku terasa malang.
18 Januari 2006
Dipetik dari kumpulan Puisi : BINGKAI WAKTU

13 October 2008

AIR DARI GUNUNG (ii)


Air dari gunung
menghilir ke muara
bertemu laut luas dan pulau risau
dihempas buas ombak ganas
mereka pun berbicara
Air dari gunung
kembara di sungai lesu
mengusap tebing
dan berbisik mesra
lembut mempesona
tebing terhakis aur mengemis
air dari gunung menerobos bengis
setiap lubuk dan ceruk
di tengah perjalanan gelora bermula
ombak mendera
sampan terpedaya
pendayung terduga
air dari gunung
membawa angkara dan luka
Air dari gunung
adalah aku yang terdorong
oleh ajakan serong
Muara yang lara
adalah engkau yang berduka
menahan luka
seperti wanita yang alpa
kehilangan mahkota ketika bercanda.
Dipetik dari Kumpulan Puisi : BINGKAI WAKTU

11 October 2008

MEREDAH LEMBAH GUNDAH


Telah kau selusuri laluan seribu warna
telah kaubina jaringan jujur
menjadi jambatan penghubung nurani
membentuk citra warga

Telah kau ukir sebuah arca di persada minda
berlambang kesepakatan kata
telah kau cipta sebuah monumen seni
bertatah budi bernilai murni
di penghujung jalan
menuju ke puncak gemilang

seperti pelayaran menuju ke pulau visi
kita dihempas gelombang resah
diusik badai sengketa
dialun ombak haloba
diburu bayu cemburu
kerana pelayaran ini
bukan sebuah ilusi

kita belayar menuju destinasi
untuk membangun pusaka bangsa
yang telah lama ditinggal masa
kita membina pelabuhan pesat
dengan seribu impian
mendiri sebuah kota
yang boleh berkata-kata
yang tahu erti merdeka
yang padat dengan martabat

Hari ini kau melangkah pasti
meredah lembah gundah
dengan semangat tabah
jika esok kau perlu berenang
di tengah lautan yang bergelora
jangan ada risau yang tak terhalau
jangan ada runsing yang mengiring
teman yang setia pasti kembali
bersama seribu doa.

20 Disember 2004

(Dipetik dari kumpulan puisi BINGKAI WAKTU)